orang yang
sabar bukan berarti orang yg lemah,,orang yg sabar bukan berarti mudah
ditindas,,orang yg sabar adalah orang yg lebih memilih jalan diam dalam
damai daripada berkoak koak sok jago.
Sabar adalah pilar kebahagiaan
seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari
kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi
berbagai m...acam
cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam
iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong
maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.
berikut adalah kisah
sabar dalam islam yg dibuat dalam halaman nih untuk dapat direnungi dan
diambil hikmahnya oleh para sahabat sekalian.
Ibnu Hibban
meriwayatkan di dalam kitab “Ats-Tsiqat” kisah ini. Dia adalah imam
besar, Abu Qilabah Al-Jurmy Abdullah bin Yazid dan termasuk dari
perawi-perawi yang meriwayatkan dari Anas bin malik. Dan yang
meriwayatkan kisah ini adalah Abdullah bin Muhammad. Berikut kisahnya :
Saya keluar untuk menjaga perbatasan di Uraisy Mesir. Ketika aku
berjalan, aku melewati sebuah perkemahan dan aku mendengar seseorang
berdoa,
“Ya Allah, anugerahkan aku ilham untuk tetap mensyukuri
nikmatMu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua
orangtuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridloi. Dan
masukkanlah aku dalam rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang
shalih.” (QS. An-Naml: 19).
Aku melihat orang yang berdoa
tersebut, ternyata ia sedang tertimpa musibah. Dia telah kehilangan
kedua tangan dan kedua kakinya, matanya buta dan kurang pendengarannya.
Beliau kehilangan anaknya, yang biasa membantunya berwudhu dan memberi
makan…
Lalu aku mendatanginya dan berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, sungguh aku telah mendengar doamu tadi, ada apa gerangan?”
Kemudian orang tersebut berkata, “Wahai hamba Allah. Demi Allah,
seandainya Allah mengirim gunung-gunung dan membinasakanku dan laut-laut
menenggelamkanku, tidak ada yang melebihi nikmat Tuhanku daripada lisan
yang berdzikir ini.” Kemudian dia berkata, “Sungguh, sudah tiga hari
ini aku kehilangan anakku. Apakah engkau bersedia mencarinya untukku?
(Anaknya inilah yang biasa membantunya berwudhu dan memberi makan)
Maka aku berkata kepadanya, “Demi Allah, tidaklah ada yang lebih utama
bagi seseorang yang berusaha memenuhi kebutuhan orang lain, kecuali
memenuhi kebutuhanmu.” Kemudian, aku meninggalkannya untuk mencari
anaknya. Tidak jauh setelah berjalan, aku melihat tulang-tulang
berserakan di antara bukit pasir. Dan ternyata anaknya telah dimangsa
binatang buas. Lalu aku berhenti dan berkata dalam hati, “Bagaimana
caraku kembali kepada temanku, dan apa yang akan aku katakan padanya
dengan kejadian ini? Aku mulai berpikir. Maka, aku teringat kisah Nabi
Ayyub ‘alaihis salam.
Setelah aku kembali, aku memberi salam kepadanya.
Dia berkata, “Bukankah engkau temanku?”
Aku katakan, “Benar.”
Dia bertanya lagi, “Apa yang selama ini dikerjakan anakku?”
Aku berkata, “Apakah engkau ingat kisah Nabi Ayyub?”
Dia menjawab, “Ya.”
Aku berkata, “Apa yang Allah perbuat dengannya?”
Dia berkata, “Allah menguji dirinya dan hartanya.”
Aku katakan, ”Bagaimana dia menyikapinya?”
Dia berkata, “Ayyub bersabar.”
Aku katakan, “Apakah Allah mengujinya cukup dengan itu?”
Dia menjawab, “Bahkan kerabat yang dekat dan yang jauh menolak dan meninggalkannya.”
Lalu aku berkata, “Bagaimana dia menyikapinya?”
Dia berkata, “Dia tetap sabar. Wahai hamba Allah, sebenarnya apa yang engkau inginkan?”
Lalu aku berkata, “Anakmu telah meninggal, aku mendapatkannya telah dimangsa binatang buas di antara bukit pasir.”
Dia berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan dariku keturunan yang dapat menjerumuskan ke neraka.”
Lalu dia menarik nafas sekali dan ruhnya keluar.
Aku duduk dalam keadaan bingung apa yang kulakukan, jika aku
tinggalkan, dia akan dimangsa binatang buas. Jika aku tetap berada
disampingnya, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika dalam keadaan
tersebut, tiba-tiba ada segerombolan perampok mendatangiku.
Para perampok itu berkata, “Apa yang terjadi?” Maka aku ceritakan apa
yang telah terjadi. Mereka berkata, “Bukakan wajahnya kepada kami!” Maka
aku membuka wajahnya, lalu mereka memiringkannya dan mendekatinya
seraya berkata, “Demi Allah, Ayahku sebagai tebusannya, aku menahan
mataku dari yang diharamkan Allah dan demi Allah, ayahku sebagai
tebusannya, tubuh orang ini menunjukkan bahwa dia adalah orang yang
sabar dalam menghadapi musibah.”
Lalu kami memandikannya,
mengafaninya dan menguburnya. Kemudian, aku kembali ke perbatasan. Lalu,
aku tidur dan aku melihatnya dalam mimpi, beliau kondisinya sehat. Aku
berkata kepadanya, “Bukankah engkau sahabatku?” Dia berkata,” Benar.”
Aku berkata, “Apa yang Allah lakukan terhadapmu?” Dia berkata, “Allah
telah memasukkanku ke dalam surga dan berkata kepadaku, ‘Keselamatan
atasmu berkat kesabaranmu.’” (QS. Ar-Ra’d: 24). “Ingatlah, hanya dengan
mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
kata mutiara:
"Anda jangan terlalu menginginkan semuanya berlangsung sprti apa yang
anda kehendaki,tetapi sabarlha dng keadaan yg berlangsung sbgai apa yg
sudah berlangsung sehingga anda tenang dan tentram".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar